apakah Jakarta sudah memasuki musim hujan?
November 10, 2009 at 3:46 pm | In hujan, iklim | Leave a CommentTags: El-Nino La-Nina, hujan

pertanyaan diatas dapat manghasilkan beberapa jawaban, tergantung sudut pandang mana yang digunakan.
jika berdasar kepada buku teks yang saya gunakan ketika SD (tahunnya rahasia
), bulan november tentunya sudah memasuki musim hujan karena angin muson barat yang bertiup dari benua asia telah memasuki kepulauan Indonesia. angin muson barat bertiup dari bulan agustus hingga bulan maret (koreksi jika keliru !)
jika berdasar kepada cerita nenek-moyang, maka bulan november juga termasuk musim hujan. karena menurut mereka bulan yang berakhiran ber (septem-ber, okto-ber, dst.) adalah bulan hujan.
jika menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Klimatologi, musim hujan akan masuk pada bulan …(bervariasi tiap daerah, lebih jelasnya cek disini)
menurut feeling saya (nah ini sebenarnya inti dari tulisan ini
), musim hujan memang sudah masuk ke Indonesia, khususnya Jakarta. ada beberapa alasan saya,
pertama beberapa hari lalu angin begitu kencang bertiup sepajang hari yang mencirikan sedang terjadinya peralihan angin. walaupun memang akhir bulan lalu juga terjadi kondisi angin yang sama, tetapi sumber anginnya adalah beda tempat. kali ini bersumber di samudera hindia yang notabene merupakan “pabrik” uap air yang bakal dikirim ke Nusantara, sedangkan angin pada akhir bulan lalu merupakan “efek samping” dari terjadinya beberapa topan di laut cina selatan.
kedua, tahun ini TIDAK akan terjadi kemunduran awal musim hujan yang signifikan. hal tersebut dikarenakan El-nino yang selama ini menjadi pemicu kekeringan, nilainya tipis diatas normal (padahal beberapa pihak sering gembar-gembor mengenai kewaspadaan terjadinya El-nino tahun ini). laporan kekeringan dari daerah pun tidak menunjukan adanya kekeringan yang massiv.
ketiga, pulau Sumatera sudah memasuki musim hujan sejak bulan lalu. sesuai jalurnya hujan akan bergeser dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi + Nusa Tenggara, dst..
keempat, sudah banyak orang yang minta doa turun hujan :p.
kelima, biar suhunya agak adem, supaya cicak ama buaya gak pada ribut karena jakarta bakal kebanjiran n mati lampu…weekss. bta
update el nino…
Oktober 14, 2009 at 12:53 pm | In cuaca | Leave a Commentel nino prediction dari NOAA
Expected El Niño impacts during October-December 2009 include enhanced precipitation over the central tropical Pacific Ocean and a continuation of drier-than-average conditions over Indonesia. For the contiguous United States, potential impacts include above-average precipitation along the Gulf Coast, from Texas to Florida, and below-average precipitation for the Pacific Northwest. Other potential impacts include a continued suppression of Atlantic hurricane activity, along with above-average temperatures and below-average snowfall for the Northern Plains.
——————————————————————————————————
In Brief
- The tropical Pacific Ocean sea surface remains warmer than average and exceeds El Niño thresholds in central to eastern regions.
- The sub-surface water of the tropical Pacific remains slightly warmer than the long-term mean across most of the central to eastern Pacific; there has been some warming in the central Pacific recently which is expected to shift eastwards over the coming weeks.
- The latest 30-day SOI value is −1, while the monthly value for September was +4. The SOI is currently neutral.
- The Trade winds have weakened across the central to eastern Pacific in the last two weeks, with weaker than normal trade flow now evident along most of the equatorial Pacific.
- Cloudiness near the date line remains greater than the long-term mean. However, when compared with other El Niño events, the current trend in cloudiness is weak.
- Most leading international climate models surveyed by the Bureau predict the tropical Pacific sea surface temperatures (SST) to remain above El Niño thresholds until at least the end of the southern summer.
laporan lengkap disini
SOI normal, tahun ini gak ada el-nino
Mei 16, 2009 at 2:13 pm | In iklim | 1 CommentTags: El-Nino La-Nina
index osilasi selatan di awal-awal tahun ini menunjukan tren yg menyimpang tidak jauh dari nilai normalnya, dengan demikian dapat diprediksi bahwa penyimpangan iklim di Indonesia akibat elnino kecil kemungkinannya untuk terjadi tahun ini.
rilis resmi mengenai SOI oleh BOM Australia dapat dilihat disini.
berita singkatnya sebagai berikut:
-
SSTs continue to warm across the central and eastern equatorial Pacific. SST values are now close to normal across most of the central equatorial Pacific, but above normal in the east.
-
The equatorial sub-surface has also continued to warm, removing most of the areas of previously cool water.
-
The SOI rebounded in April after falling in March, but the most recent values indicate a renewed falling trend. The latest 30-day SOI value for 5 May is +7. The monthly value for April was +9.
-
Trade winds have weakened further. Anomalous westerly flow currently covers much of the equatorial Pacific.
-
Cloudiness near the date-line increased, but remains below average.
-
The majority of dynamic computer models predict neutral conditions to continue until at least mid-winter.

potensi hujan besok dan lusa…
April 19, 2009 at 5:02 pm | In cuaca | Leave a Comment

dari chart bisa dilihat arah pergerakan awan menuju ke daerah nusa tenggara….dan kemungkinan efeknya bisa mencapai jawa….
so, sedia payung sebelum hujan…..bta.
Tukang Cuaca Rumah Tangga
Maret 16, 2009 at 3:19 pm | In cuaca | 2 CommentsTags: BMKG
Meteorologi itu kompleks. Kita tidak pernah bisa meramal cuaca dengan tepat. Karena semua memang telah digariskan demikian, oleh Sang Maha Pengatur Alam Semesta. Yang bisa dilakukan adalah sebuah pendekatan belaka. Oleh karena itu, tidak ada ramalan cuaca yang benar-benar tepat. Oleh karena itu, ramalan cuaca ini biasanya disebut prakiraan (terdiri dari kata pra = sebelum, kiraan = perkiraan).
Biasanya, pengamatan cuaca dilakukan instansi-instansi resmi yang ditunjuk pemerintah. Seperti misalnya di Indonesia adalah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Walaupun demikian, sebagai bentuk pembelajaran, masyarakat sipil (seperti kita-kita ini) dapat pula menjadi seorang “peramal cuaca”, meskipun dalam skala yang kecil. Sebenarnya yang kita kerjakan adalah melakukan pengamatan (observasi) sederhana dengan menggunakan alat-alat sederhana yang “mungkin” bisa dibuat sendiri. Tujuannya adalah membuat sebuah data historis tentang cuaca di daerah sekitar dalam skala sempit, untuk kemudian membuat prediksi berdasarkan data-data tersebut dalam jangka tertentu berdasarkan observasi ilmiah dengan menggunakan alat-alat tersebut.
Misalnya untuk mengukur angin, digunakan baling-baling mainan anak kecil. Semakin cepat putaran, otomatis, angin bertiup dengan kencang.untuk menggukur curah hujan digunakan kaleng biasa. Kemudian diukur berapa ketinggiannya. Untuk mengukur suhu digunakan termometer sederhana yang bisa dibeli di toko-toko. Untuk mengukur kelembaban, digunakan higrometer yang bisa dibuat sendiri. Setiap hari dilakukan pengamatan (biasanya tiga kali menurut waktu yang telah ditentukan), sehingga terkumpul data-data cuaca yang banyak. Dari situlah dapat diketahui karakteristik cuaca daerah setempat (dalam hal ini sekitar rumah kita). Karena terbiasa, akan mudah dilakukan sebuah prediksi prakiraan cuaca layaknya seorang meteorolog sungguhan.
Memang sih, untuk membuat stasiun cuaca, diperlukan syarat-syarat tertentu salah satunya daerah yang cukup luas. Dan ini cukup sulit karena daerah kita dikelilingi oleh rumah-rumah yang tentu saja akan mempengaruhi kondisi sekitarnya. Yang diperlukan adakan sikap rajin dan disiplin melakukan pengamatan cuaca secara berkelanjutan.

Dalam buku “Cuaca” karya Philip D. Thompson dan O’brien saya membaca, ada orang seorang pelajar di Amerika Serikat, namanya John Sims (saat itu usianya baru 13 tahun loh, kalo di kita mungkin baru kelas 7 SMP) yang sangat cinta pada ilmu cuaca (meteorologi). Pada usia semuda itu, John berhasil membangun stasiun cuaca sendiri. Meskipun sederhana, ia mencoba melakukan pengamatan kecil-kecilan kemudian mengikutsertakan ke dalam lomba ilmiah nasional pada waktu itu dan mendapatkan hadiah.
Sejatinya, Untuk membuat sebuah prakiraan yang cukup tepat, tentu diperlukan banyak hal, mulai dari alat-alat pengukur cuaca standar (ada di stasiun cuaca) misalnya pengukur suhu (termometer), angin (anemometer), curah hujan (penakar hujan), kelembaban relatif (psikrometer & higrometer dalam sangkar cuaca) dan lain sebagainya. Dalam meterologi modern, digunakan pula observasi udara atas dengan menggunakan radiosonde, ‘pilot balon’ yang diisi pengukur unsur cuaca. Ada juga yang menggunakan radar dan satelit untuk memantau keadaan cuaca dalam jangkauan lebih luas.
Meski ramalannya jauh dari sempurna, John telah membuktikan bahwa hanya dengan bermodalkan alat-alat sederhana, ia pun bisa menjadi seorang meteorog amatir alias Tukang Cuaca Rumah Tangga. Mm.. jadi penasaran nih, apa saja alat yang dia gunakan untuk “meramal” cuaca.
Untuk mengukur kelembaban udara digunakan alat yang terdapat di Sangkar Cuaca terdiri dari Psikrometer (termometer bola basah dan bola kering) dan Higrometer. Termometer bola kering (seperti termometer pada umumnya) digunakan untuk mencatat suhu udara. Satu termometer lagi, ujungnya diikatkan dengan tali sepatu kemudian dimasukkan ke dalam air. Inilah yang disebut termometer bola basah. Higrometer John dibuat dengan rambut saudara perempuannya (rambut dapat memanjang jika terkena air) untuk mengukur kelembaban udara. Bila rambut memanjang karena kelembaban meningkat, maka bandul pada palang menariknya menjadi tegang dan penunjuknya bergerak ke atas pada sumbu. Jika rambut mengering, palang tertarik ke atas dan penunjuk bergerak ke bawah pada skala. Cukup menarik bukan?
Untuk mengukur angin, John menggunakan anemometer dan “jago cuaca” (windvane) yang dibuatnya sendiri. Selain itu digunakan juga Tabel Skala Beaufort dengan cara melihat tanda-tanda sekeliling kita. John membuat anemometer dari corong di dapur dan barang bekas, termasuk roda dari sepatu roda tua. Anemometer digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Bila mangkuk kerucutnya tertiup angin, maka alat itu akan berputar walaupun anginnya sangat lembut sekalipun. Selain itu terdapat “jago cuaca” (atau windvane) yang digunakan untuk menunjukkan arah angin. Anemometer dan penunjuk arah angin ini dipasang pada sebatang gagang sapu kemudian dipaku pada sangkar cuaca milik John. Pengetuk penghitung berbunyi “klik” apabila menyentuh pasak, sedangkan bantalan peluru sepatu roda memperlicin perputarannya. Huh, hebat kan?
Untuk mengukur tekanan udara, John menggunakan Barometer buatan sendiri dengan menggunakan oli. Pada barometer ini, bobot udara menekan oli dalam tutup botol ke bawah dan mendorong oli dalam pipa plastik ke atas. Tanda pada pipa adalah skala untuk mengamati perubahan tekanan. Botol hampa itu dibungkus wol mineral untuk menahan pipa dan melindunginya. Barometer harus diletakkan di tempat yang suhunya tidak berubah-ubah secara mencolok.
Hasil pengamatan-pengamatan yang dia dilakukan tersebut kemudian dibuat prediksi dengan menggunakan tabel yang terdapat pada buku literatur cuaca/iklim. Wah, menarik ya. Berniat mencoba?
Indramayu, 16 Maret 2009
[i@R 4 - C3]
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.