update el nino…
Oktober 14, 2009 at 12:53 pm | In cuaca | Leave a Commentel nino prediction dari NOAA
Expected El Niño impacts during October-December 2009 include enhanced precipitation over the central tropical Pacific Ocean and a continuation of drier-than-average conditions over Indonesia. For the contiguous United States, potential impacts include above-average precipitation along the Gulf Coast, from Texas to Florida, and below-average precipitation for the Pacific Northwest. Other potential impacts include a continued suppression of Atlantic hurricane activity, along with above-average temperatures and below-average snowfall for the Northern Plains.
——————————————————————————————————
In Brief
- The tropical Pacific Ocean sea surface remains warmer than average and exceeds El Niño thresholds in central to eastern regions.
- The sub-surface water of the tropical Pacific remains slightly warmer than the long-term mean across most of the central to eastern Pacific; there has been some warming in the central Pacific recently which is expected to shift eastwards over the coming weeks.
- The latest 30-day SOI value is −1, while the monthly value for September was +4. The SOI is currently neutral.
- The Trade winds have weakened across the central to eastern Pacific in the last two weeks, with weaker than normal trade flow now evident along most of the equatorial Pacific.
- Cloudiness near the date line remains greater than the long-term mean. However, when compared with other El Niño events, the current trend in cloudiness is weak.
- Most leading international climate models surveyed by the Bureau predict the tropical Pacific sea surface temperatures (SST) to remain above El Niño thresholds until at least the end of the southern summer.
laporan lengkap disini
potensi hujan besok dan lusa…
April 19, 2009 at 5:02 pm | In cuaca | Leave a Comment

dari chart bisa dilihat arah pergerakan awan menuju ke daerah nusa tenggara….dan kemungkinan efeknya bisa mencapai jawa….
so, sedia payung sebelum hujan…..bta.
Tukang Cuaca Rumah Tangga
Maret 16, 2009 at 3:19 pm | In cuaca | 2 CommentsTags: BMKG
Meteorologi itu kompleks. Kita tidak pernah bisa meramal cuaca dengan tepat. Karena semua memang telah digariskan demikian, oleh Sang Maha Pengatur Alam Semesta. Yang bisa dilakukan adalah sebuah pendekatan belaka. Oleh karena itu, tidak ada ramalan cuaca yang benar-benar tepat. Oleh karena itu, ramalan cuaca ini biasanya disebut prakiraan (terdiri dari kata pra = sebelum, kiraan = perkiraan).
Biasanya, pengamatan cuaca dilakukan instansi-instansi resmi yang ditunjuk pemerintah. Seperti misalnya di Indonesia adalah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Walaupun demikian, sebagai bentuk pembelajaran, masyarakat sipil (seperti kita-kita ini) dapat pula menjadi seorang “peramal cuaca”, meskipun dalam skala yang kecil. Sebenarnya yang kita kerjakan adalah melakukan pengamatan (observasi) sederhana dengan menggunakan alat-alat sederhana yang “mungkin” bisa dibuat sendiri. Tujuannya adalah membuat sebuah data historis tentang cuaca di daerah sekitar dalam skala sempit, untuk kemudian membuat prediksi berdasarkan data-data tersebut dalam jangka tertentu berdasarkan observasi ilmiah dengan menggunakan alat-alat tersebut.
Misalnya untuk mengukur angin, digunakan baling-baling mainan anak kecil. Semakin cepat putaran, otomatis, angin bertiup dengan kencang.untuk menggukur curah hujan digunakan kaleng biasa. Kemudian diukur berapa ketinggiannya. Untuk mengukur suhu digunakan termometer sederhana yang bisa dibeli di toko-toko. Untuk mengukur kelembaban, digunakan higrometer yang bisa dibuat sendiri. Setiap hari dilakukan pengamatan (biasanya tiga kali menurut waktu yang telah ditentukan), sehingga terkumpul data-data cuaca yang banyak. Dari situlah dapat diketahui karakteristik cuaca daerah setempat (dalam hal ini sekitar rumah kita). Karena terbiasa, akan mudah dilakukan sebuah prediksi prakiraan cuaca layaknya seorang meteorolog sungguhan.
Memang sih, untuk membuat stasiun cuaca, diperlukan syarat-syarat tertentu salah satunya daerah yang cukup luas. Dan ini cukup sulit karena daerah kita dikelilingi oleh rumah-rumah yang tentu saja akan mempengaruhi kondisi sekitarnya. Yang diperlukan adakan sikap rajin dan disiplin melakukan pengamatan cuaca secara berkelanjutan.

Dalam buku “Cuaca” karya Philip D. Thompson dan O’brien saya membaca, ada orang seorang pelajar di Amerika Serikat, namanya John Sims (saat itu usianya baru 13 tahun loh, kalo di kita mungkin baru kelas 7 SMP) yang sangat cinta pada ilmu cuaca (meteorologi). Pada usia semuda itu, John berhasil membangun stasiun cuaca sendiri. Meskipun sederhana, ia mencoba melakukan pengamatan kecil-kecilan kemudian mengikutsertakan ke dalam lomba ilmiah nasional pada waktu itu dan mendapatkan hadiah.
Sejatinya, Untuk membuat sebuah prakiraan yang cukup tepat, tentu diperlukan banyak hal, mulai dari alat-alat pengukur cuaca standar (ada di stasiun cuaca) misalnya pengukur suhu (termometer), angin (anemometer), curah hujan (penakar hujan), kelembaban relatif (psikrometer & higrometer dalam sangkar cuaca) dan lain sebagainya. Dalam meterologi modern, digunakan pula observasi udara atas dengan menggunakan radiosonde, ‘pilot balon’ yang diisi pengukur unsur cuaca. Ada juga yang menggunakan radar dan satelit untuk memantau keadaan cuaca dalam jangkauan lebih luas.
Meski ramalannya jauh dari sempurna, John telah membuktikan bahwa hanya dengan bermodalkan alat-alat sederhana, ia pun bisa menjadi seorang meteorog amatir alias Tukang Cuaca Rumah Tangga. Mm.. jadi penasaran nih, apa saja alat yang dia gunakan untuk “meramal” cuaca.
Untuk mengukur kelembaban udara digunakan alat yang terdapat di Sangkar Cuaca terdiri dari Psikrometer (termometer bola basah dan bola kering) dan Higrometer. Termometer bola kering (seperti termometer pada umumnya) digunakan untuk mencatat suhu udara. Satu termometer lagi, ujungnya diikatkan dengan tali sepatu kemudian dimasukkan ke dalam air. Inilah yang disebut termometer bola basah. Higrometer John dibuat dengan rambut saudara perempuannya (rambut dapat memanjang jika terkena air) untuk mengukur kelembaban udara. Bila rambut memanjang karena kelembaban meningkat, maka bandul pada palang menariknya menjadi tegang dan penunjuknya bergerak ke atas pada sumbu. Jika rambut mengering, palang tertarik ke atas dan penunjuk bergerak ke bawah pada skala. Cukup menarik bukan?
Untuk mengukur angin, John menggunakan anemometer dan “jago cuaca” (windvane) yang dibuatnya sendiri. Selain itu digunakan juga Tabel Skala Beaufort dengan cara melihat tanda-tanda sekeliling kita. John membuat anemometer dari corong di dapur dan barang bekas, termasuk roda dari sepatu roda tua. Anemometer digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Bila mangkuk kerucutnya tertiup angin, maka alat itu akan berputar walaupun anginnya sangat lembut sekalipun. Selain itu terdapat “jago cuaca” (atau windvane) yang digunakan untuk menunjukkan arah angin. Anemometer dan penunjuk arah angin ini dipasang pada sebatang gagang sapu kemudian dipaku pada sangkar cuaca milik John. Pengetuk penghitung berbunyi “klik” apabila menyentuh pasak, sedangkan bantalan peluru sepatu roda memperlicin perputarannya. Huh, hebat kan?
Untuk mengukur tekanan udara, John menggunakan Barometer buatan sendiri dengan menggunakan oli. Pada barometer ini, bobot udara menekan oli dalam tutup botol ke bawah dan mendorong oli dalam pipa plastik ke atas. Tanda pada pipa adalah skala untuk mengamati perubahan tekanan. Botol hampa itu dibungkus wol mineral untuk menahan pipa dan melindunginya. Barometer harus diletakkan di tempat yang suhunya tidak berubah-ubah secara mencolok.
Hasil pengamatan-pengamatan yang dia dilakukan tersebut kemudian dibuat prediksi dengan menggunakan tabel yang terdapat pada buku literatur cuaca/iklim. Wah, menarik ya. Berniat mencoba?
Indramayu, 16 Maret 2009
[i@R 4 - C3]
Fakta Seru Cuaca/Iklim
Februari 23, 2009 at 2:37 pm | In cuaca, iklim | 1 CommentTags: BMKG, fakta seru, GFM
Tahukah Anda?
Suatu hari saya membaca buku cuaca untuk anak-anak terbitan Erlangga for kids. Judulnya “Topik Seru: Cuaca” karya Harry Ford & Kay Barnham. Isinya tentu saja tentang pengenalan cuaca/iklim untuk anak-anak. Namun yang menarik, ada fakta-fakta seru, unik dan aneh berkaitan dengan cuaca/ iklim tersebut. Bagi saya, hal itu cukup menarik dan menambah pengetahuan saya di dunia cuaca/iklim. Berikut beberapa fakta tersebut:
- Planet Mars juga berputar dengan sumbu rotasi yang miring sehingga Mars memiliki musim-musim yang sangat mirip dengan Bumi
- Tempat terpanas di muka bumi adalah Dallol di Ethiopia. Suhu rata-rata tempat teduh di tempat itu mencapai 34,4 °C
- Tekanan udara tertinggi yang pernah tercatat adalah 1084 milibar di Seberia. Sedangkan tekanan udara terendah adalah 870 milibar tercatat dalam sebuah topan yang bertiup di atas Samudera Pasifik. (tekanan udara normal dataran rendah dekat permukaan laut adalah 1013, 25 milibar) Kabin dalam pesawat terang diberi tekanan khusus agar para penumpang awak dan penumpang tidak menderita karena berkurangnya tekanan udara saat pesawat terbang semakin tinggi.
- Tempat paling ber-angin di dunia adalah di Teluk Commonwealth, Antartika.
- Pesawat terbang kadangkala meninggalkan jejak awan buatan di belakangnya yang disebut contrail, yang terbentuk dari kristal-kristal es.
- Tempat paling kering di dunia adalah gurun Atacama di Chili yang memiliki curah hujan kurang dari 0,1 milimeter per tahun. Sedangkan tempat paling basah di dunia diduga adalah Mawsynram, India dengan curah hujan sebanyak 11.873 milimeter per tahun.
- Semua keping salju memiliki enam sisi, tetapi tidak ada satu pun yang persis sama.
- Tempat paling terang di dunia adalah Gurun Sahara bagian timur yang memiliki 4300 jam cerah per tahun.
- Selama 180 hari (kurang lebih 6 bulan) dalam setahun, Kutub utara dan Kutub Selatan sama sekali tidak memperoleh cahaya matahari.
- Percobaan Benjamin Franklin dengan layang-layang yang terhubung dengan kunci logam menunjukkan bahwa kilat memiliki muatan listrik ketika kunci tersebut memercikkan bunga api listrik.
- Tempat dengan badai petir terbanyak dalam setahun adalah di Bogor di Indonesia. Di tempat ini, terjadi lebih dari 220 badai petir setiap tahunnya. Sedangkan tempat paling jarang mengalami badai petir adalah Arktik dan Antartika.
- Ketika udara sangat jernih, jarak pandang bisa mencapai 160 km atau lebih.
- Di Gurun Atacama, Chili, orang-orang menggunakan harpa dengan benang-benang nilon untuk mengumpulkan air dari kabut laut.
- Angin ribut yang kuat di laut dapat menciptakan gelombang setinggi lebih dari 15 meter. Beberapa gelombang dapat disebabkan ole angin yang terjadi 3000 km jauhnya.
- Grand Banks dekat Newfoundland, Kanada adalah daerah laut paling berkabut di dunia.
- Di Pegunungan Rocky, Kanada, angin hangat yang bertiup dapat menaikkan suhu sebesar 20 °C. [i@R-4 -C3]
Ada Apa dengan Cuaca?
Februari 16, 2009 at 11:55 am | In cuaca | 1 CommentTags: BMKG, GFM

Cuaca adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisika atmosfer (selubung gas) bumi dalam wilayah sempit dan waktu yang pendek. Ilmu yang mempelajari masalah ini dinamakan Meteorologi (Awas berbeda loh dengan Metrologi!). Jika cuaca yang diamati jam demi jam, hari demi hari dihimpun menjadi suatu data historis yang panjang (minimal 30 tahun), jadilah iklim. Tentu saja iklim ini juga meliputi wilayah yang lebih luas. Dan ilmu yang mempelajarinya dinamakan Klimatologi.
Bagi kalangan ilmiah, cuaca biasanya direpresentasikan dengan nilai-nilai yang terukur (kuantitif), seperti misalnya suhu rata-rata suatu suatu daerah pada hari ini adalah 27 derajat Celcius, dengan kelembaban relatif (Relative Humidity) 60 %. Sementara bagi kebanyakan orang, cuaca seringkali disebutkan secara kualitatif. Maka tidak jarang penyebutan “cuacanya cerah”, atau “cuaca hari ini mendung/berawan” atau “wah, sepertinya akan turun hujan nih” adalah kata-kata yang seringkali dikenal umum untuk menyebutkan cuaca di daerah tertentu pada hari tertentu pula. Bagiku, setiap ilmu itu menarik dan punya daya tarik. Seperti demikian juga dengan ilmu cuaca (meteorologi).
Satu kutipan menarik tentang ilmu ini kudapatkan dari dialog panjang Ian Malcolm dalam novel fiksi ilmiah keren “Jurassic Park” karya Michael Chricton. Berikut petikannya:
“Cuaca merupakan sistem besar yang rumit, yaitu atmosfer bumi yang berinteraksi dengan tanah dan matahari. Perilaku system besar itu tidak pernah bisa dipahami. Jadi dengan sendirinya kita tidak bisa meramalkan cuaca. Tapi yang diperoleh para peneliti tahap awal dari model-model computer adalah bahwa kita, meskipun sanggup memahaminya, kita tetap tidak mampu meramalkannya.
Meramalkan cuaca adalah upaya yang mustahil. Sebab perilaku system sangat terganung pada kondisi awal. Jika saya menggunakan meriam untuk menembakkan peluru dengan berat tertentu, pada kecepatan tertentu, dan dengan sudut tertentu – dan jika kemudian saya menembakkan peluru kedua dengan berat, kecepatan dan sudut yang hamper sama, apa yang akan terjadi? Kedua peluru akan jatuh di tempat yang hampir sama. Itu yang dinamakan dinamika linier.
Tapi jika saya mempunyai sistem cuaca yang saya awali dengan suhu tertentu dan kecepatan angin tertentu. Dan kelembaban tertentu-dan jika kemudian saya mengulangi dengan suhu, angin dan kelembaban yang hampir sama, perilaku sistem kedua takkan hampir sama. Perilaku system kedua akan bergeser dan dalam waktu singkat akan menjadi sangat berbeda dari yang pertama. Badai petir, bukannya sinar matahari. Itu yang dinamakan dinamika non linier. Sistem non linier sangat sensitive terhadap kondisi awal: perbedaan-perbedaan kecil menjadi besar.”
Demikianlah, cuaca pada dasarnya sangat sulit untuk diprediksi. Selain harus mengunakan alat yang lumayan canggih dan mahal, ini dikarenakan karena sistem atmosfer bumi kita bukanlah merupakan sistem yang steady, tapi merupakan sistem yang selalu berubah setiap saat. Menjadi lebih kompleks karena melingkupi juga ruang yang sangat luas. Makanya, cuaca di setiap tempat berbeda satu dengan yang lainnya meskipun dalam waktu yang sama. Oleh karena itu, hasil prediksi para meteorolog (ahli cuaca) pun masih disebut prakiraan cuaca, artinya sebelum perkiraan. Maksudnya, sebuah perkiraan yang bisa saja salah karena sulitnya memprediksi sistem yang kompleks ini. [i@R 4 Climate Care Community]
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.