Tukang Cuaca Rumah Tangga

Maret 16, 2009 pukul 3:19 pm | Ditulis dalam cuaca | 3 Komentar
Tag:

Meteorologi itu kompleks. Kita tidak pernah bisa meramal cuaca dengan tepat. Karena semua memang telah digariskan demikian, oleh Sang Maha Pengatur Alam Semesta. Yang bisa dilakukan adalah sebuah pendekatan belaka. Oleh karena itu, tidak ada ramalan cuaca yang benar-benar tepat. Oleh karena itu, ramalan cuaca ini biasanya disebut prakiraan (terdiri dari kata pra = sebelum, kiraan = perkiraan).

Biasanya, pengamatan cuaca dilakukan instansi-instansi resmi yang ditunjuk pemerintah. Seperti misalnya di Indonesia adalah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Walaupun demikian, sebagai bentuk pembelajaran, masyarakat sipil (seperti kita-kita ini) dapat pula menjadi seorang “peramal cuaca”, meskipun dalam skala yang kecil. Sebenarnya yang kita kerjakan adalah melakukan pengamatan (observasi) sederhana dengan menggunakan alat-alat sederhana yang “mungkin” bisa dibuat sendiri. Tujuannya adalah membuat sebuah data historis tentang cuaca di daerah sekitar dalam skala sempit, untuk kemudian membuat prediksi berdasarkan data-data tersebut dalam jangka tertentu berdasarkan observasi ilmiah dengan menggunakan alat-alat tersebut.

Misalnya untuk mengukur angin, digunakan baling-baling mainan anak kecil. Semakin cepat putaran, otomatis, angin bertiup dengan kencang.untuk menggukur curah hujan digunakan kaleng biasa. Kemudian diukur berapa ketinggiannya. Untuk mengukur suhu digunakan termometer sederhana yang bisa dibeli di toko-toko. Untuk mengukur kelembaban, digunakan higrometer yang bisa dibuat sendiri. Setiap hari dilakukan pengamatan (biasanya tiga kali menurut waktu yang telah ditentukan), sehingga terkumpul data-data cuaca yang banyak. Dari situlah dapat diketahui karakteristik cuaca daerah setempat (dalam hal ini sekitar rumah kita). Karena terbiasa, akan mudah dilakukan sebuah prediksi prakiraan cuaca layaknya seorang meteorolog sungguhan.

Memang sih, untuk membuat stasiun cuaca, diperlukan syarat-syarat tertentu salah satunya daerah yang cukup luas. Dan ini cukup sulit karena daerah kita dikelilingi oleh rumah-rumah yang tentu saja akan mempengaruhi kondisi sekitarnya. Yang diperlukan adakan sikap rajin dan disiplin melakukan pengamatan cuaca secara berkelanjutan.

john-sims

Dalam buku “Cuaca” karya Philip D. Thompson dan O’brien saya membaca, ada orang seorang pelajar di Amerika Serikat, namanya John Sims (saat itu usianya baru 13 tahun loh, kalo di kita mungkin baru kelas 7 SMP) yang sangat cinta pada ilmu cuaca (meteorologi). Pada usia semuda itu, John berhasil membangun stasiun cuaca sendiri. Meskipun sederhana, ia mencoba melakukan pengamatan kecil-kecilan kemudian mengikutsertakan ke dalam lomba ilmiah nasional pada waktu itu dan mendapatkan hadiah.

termometer1 Sejatinya, Untuk membuat sebuah prakiraan yang cukup tepat, tentu diperlukan banyak hal, mulai dari alat-alat pengukur cuaca standar (ada di stasiun cuaca) misalnya pengukur suhu (termometer), angin (anemometer), curah hujan (penakar hujan), kelembaban relatif (psikrometer & higrometer dalam sangkar cuaca) dan lain sebagainya. Dalam meterologi modern, digunakan pula observasi udara atas dengan menggunakan radiosonde, ‘pilot balon’ yang diisi pengukur unsur cuaca. Ada juga yang menggunakan radar dan satelit untuk memantau keadaan cuaca dalam jangkauan lebih luas.

Meski ramalannya jauh dari sempurna, John telah membuktikan bahwa hanya dengan bermodalkan alat-alat sederhana, ia pun bisa menjadi seorang meteorog amatir alias Tukang Cuaca Rumah Tangga. Mm.. jadi penasaran nih, apa saja alat yang dia gunakan untuk “meramal” cuaca.

higrometer2Untuk mengukur kelembaban udara digunakan alat yang terdapat di Sangkar Cuaca terdiri dari Psikrometer (termometer bola basah dan bola kering) dan Higrometer. Termometer bola kering (seperti termometer pada umumnya) digunakan untuk mencatat suhu udara. Satu termometer lagi, ujungnya diikatkan dengan tali sepatu kemudian dimasukkan ke dalam air. Inilah yang disebut termometer bola basah. Higrometer John dibuat dengan rambut saudara perempuannya (rambut dapat memanjang jika terkena air) untuk mengukur kelembaban udara. Bila rambut memanjang karena kelembaban meningkat, maka bandul pada palang menariknya menjadi tegang dan penunjuknya bergerak ke atas pada sumbu. Jika rambut mengering, palang tertarik ke atas dan penunjuk bergerak ke bawah pada skala. Cukup menarik bukan?

anemometerUntuk mengukur angin, John menggunakan anemometer dan “jago cuaca” (windvane) yang dibuatnya sendiri. Selain itu digunakan juga Tabel Skala Beaufort dengan cara melihat tanda-tanda sekeliling kita. John membuat anemometer dari corong di dapur dan barang bekas, termasuk roda dari sepatu roda tua. Anemometer digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Bila mangkuk kerucutnya tertiup angin, maka alat itu akan berputar walaupun anginnya sangat lembut sekalipun. Selain itu terdapat “jago cuaca” (atau windvane) yang digunakan untuk menunjukkan arah angin. Anemometer dan penunjuk arah angin ini dipasang pada sebatang gagang sapu kemudian dipaku pada sangkar cuaca milik John. Pengetuk penghitung berbunyi “klik” apabila menyentuh pasak, sedangkan bantalan peluru sepatu roda memperlicin perputarannya. Huh, hebat kan?

barometerUntuk mengukur tekanan udara, John menggunakan Barometer buatan sendiri dengan menggunakan oli. Pada barometer ini, bobot udara menekan oli dalam tutup botol ke bawah dan mendorong oli dalam pipa plastik ke atas. Tanda pada pipa adalah skala untuk mengamati perubahan tekanan. Botol hampa itu dibungkus wol mineral untuk menahan pipa dan melindunginya. Barometer harus diletakkan di tempat yang suhunya tidak berubah-ubah secara mencolok.

Hasil pengamatan-pengamatan yang dia dilakukan tersebut kemudian dibuat prediksi dengan menggunakan tabel yang terdapat pada buku literatur cuaca/iklim. Wah, menarik ya. Berniat mencoba?

Indramayu, 16 Maret 2009

[i@R 4 – C3]

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. berterima kasih banget saya pada Allah SWT karena telah menciptakan mu untuk membuat ini semua.he…he…he…

    i@R: alhamdulillah wa syukrulillah…

  2. jazakumullah

    >>>sedia payung: jazakumullah kharian katsira.

  3. wah =) bagus,tingkatkan dan pertahankan! yang buka web ini pasti yg rajin2 doang -____- hehe,kyk gw

    >>>sedia payung: Hehehe… betuuuul!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: