Tujuh parameter untuk menganalisa cuaca di Indonesia

Juli 6, 2012 pukul 4:57 pm | Ditulis dalam cuaca | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , , ,

Tulisan ini diilhami dari tulisan Dr. Tri Seto Handoko yang dimuat di detik.com yang telah diulas pada https://sediapayung.wordpress.com/2012/06/14/analisa-cuaca-komprehensif-terkait-kecelakaan-sukhoi-superjet-100-oleh-ahli-bppt/ dan bersumber dari http://news.detik.com/read/2012/05/25/044037/1924301/10/ini-dia-proses-cuaca-hasil-analisa-bppt-saat-kecelakaan-sukhoi-terjadi?9922022

metode ini sangat komprehensif dalam menganalisa kondisi cuaca ataupun iklim jangka pendek di Indonesia, bahkan cenderung masuk dalam kategori ideal, karena membutuhkan usaha ekstra dalam mengumpulkan data-data yang diperlukan.

Data-data yang diperlukan meliputi:

Data historis

yaitu data iklim yang mencatat unsur cuaca selama bertahun-tahun secara kontinu sehingga bisa dijadikan acuan dalam menentukan kondisi iklim normal, seperti diketahui bersama, WMO menggunakan standar 30 tahun seri data iklim untuk menjadi acuan iklim normal suatu tempat. data iklim normal di Indonesia cukup mudah dicari melalui internet ataupun bentuk publikasi lainnya, sebagai contoh bisa dilihat di https://sediapayung.wordpress.com/2011/07/16/normal-rainfall-indonesia-part-2/https://sediapayung.wordpress.com/2011/04/22/curah-hujan-normal-di-indonesia/ , ataupun banyak sumber lainnya.

Data angin regional

bisa dilihat di http://www.bom.gov.au/australia/charts/grad_wind_anal_bw.shtml , sedangkan http://meteo.bmkg.go.id/prakiraan/streamline merupakan data prakiraan esok bukan data hasil pengamatan hari ini.

Data suhu muka laut

bisa dilihat tiap hari di http://www.bom.gov.au/cgi-bin/wrap_fwo.pl?IDY00001.gif

Data radiosonde

nah, akan sangat sulit mendapatkan data radiosonde di Indonesia, karena hanya ada beberapa tempat, stasiun cuaca yang melakukan pengamatan cuaca vertikal menggunakan radiosonde tiap hari nya, dan itu digunakan untuk kepentingan internal (BMKG).

Data tutupan awan

data ini adalah data yang relatif paling mudah dilihat/ didapatkan, bisa dilihat di http://bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Meteorologi/Citra_Satelit.bmkg, atau http://www.bom.gov.au/australia/satellite/, atau http://weather.is.kochi-u.ac.jp/SE/00Latest.jpg, atau http://www.jma.go.jp/en/gms/, atau banyak sumber lain nya.

Data radar

untuk wilayah JaBoDeTaBek dan sekitar bisa dilihat di http://neonet.bppt.go.id/sijampang/, sedangkan radar BMKG mencakup wilayah Banda Aceh dst., Padang dst., Manado dst., Bima dst., dan Makasar dst..

Data curah hujan

ini dia data yang susah-susah gampang cara mendapatkan nya, apalagi untuk melihat data cuaca harian. namun jika untuk sekedar menganalisa, anda bisa menggunakan cara ini https://sediapayung.wordpress.com/2012/05/10/cara-download-data-iklim-gratis/

Iklan

Analisa Cuaca Komprehensif terkait kecelakaan Sukhoi Superjet 100 oleh ahli BPPT

Juni 14, 2012 pukul 12:09 pm | Ditulis dalam cuaca | 1 Komentar
Tag: , , , , ,

iseng-iseng buka email forum, tertarik dengan salah satu judul nya, eh ternyata ada link nya pula http://news.detik.com/read/2012/05/25/044037/1924301/10/ini-dia-proses-cuaca-hasil-analisa-bppt-saat-kecelakaan-sukhoi-terjadi?9922022. Setelah dibaca dengan seksama, hmmm…super sekali pembahasan nya.

Dr. Tri Seto Handoko memang ahli dibidang awan-per-awan-an (kebetulan teman saya pernah menjadi bimbingan beliau).

ada beberapa poin penting yang bisa diambil dari artikel tersebut

  • gak dulu gak sekarang, gak di pusat gak didaerah, gak orang pinter gak orang biasa, masalah miskomunikasi selalu menjadi hambatan yang harus di benahi (indonesia banget kan?)…dalam hal ini adalah antara BMKG dan LAPAN.
  • analisa cuaca bukan perkara sepele yang bisa diambil kesimpulan hanya dengan satu indikator tetapi harus komprehensif seperti diulas di artikel tersebut.
  • tumpang tindih wewenang dalah hal informasi cuaca karena ada beberapa instansi yang mengurusi masalah yang sama malah akan membuat masyarakat bingung alih-alih mendapatkan informasi yang mencerahkan.

mari jadikan semuanya lebih baik mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari sekarang…

Ayo dong website BMKG…

Mei 8, 2012 pukul 1:21 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , ,

tak usah jauh-jauh membandingkan dengan website http://www.noaa.gov,www.bom.gov.au atau http://www.jma.go.jp, mari lihat http://www.bppt.go.id, http://www.lapan.go.id atau http://www.bnpb.go.id

mereka telah mengemas halaman muka website nya dengan menampilkan news yang informatif yang dibutuhkan masyarakat umum, bukan rutinitas kunjungan siswa atapun pelantikan pejabat ataupun pelatihan internal.

saya yakin BMKG mampu menjadikan website http://www.bmkg.go.id menjadi website yang dikenal luas masyarakat dengan pelayanan informasi yang memadai, karena didukung oleh sumberdaya manusia yang profesional, energik dan inovatif. tinggal kemauan saja yagn dibutuhkan.

sesungguhnya, informasi tentang cuaca dan iklim adalah informasi yang dibutuhkan masyarakat setiap hari. maka updating informasi menjadi sangat penting, updating data radar dan satelit akan sangat membantu. ukuran halaman web yang ringan juga akan memudahkan masyarakat dalam mengaksesnya, hindarilah tampilan-tampilan yang memakn bandwith karena sesunguhnya yang dibutuhkan masyarakat adalah informasi nya. seiring dengan perkembangan teknologi, akan sangat memudahkan jika http://www.bmkg.go.id membuat web versi mobile sehinga bisa diakses dari hape jadul sekalipun.

ayo website BMKG, pasti bisa!, bukankah memberikan informasi yang berguna itu merupakan ibadah? hehehe

Setelah beberapa hari panas, akhirnya Jakarta dan sekitar nya diguyur hujan sedang

April 17, 2012 pukul 4:44 pm | Ditulis dalam cuaca | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

berikut ini gambar yang radar BPPT yang diambil dari http://neonet.bppt.go.id/sijampang pada hari ini tanggal 17 April 2012 jam 4-an sore

Artikel pencerdasan tentang gempa dari BPPT

April 16, 2012 pukul 12:32 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

langsung copas dari website BPPT nih di http://www.bppt.go.id/index.php/component/content/article/62-teknologi-kelautan-dan-kedirgantaraan/1066-catatan-tentang-gempa-aceh-11-april-2012

CATATAN TENTANG GEMPA ACEH 11 APRIL 2012

JUMAT, 13 APRIL 2012 09:28 0 COMMENTS

Berdasarkan spektrum energinya, saat ini dikenal tiga jenis gempa, yaitu: gempa Megathrust, gempa Tsunami, dan gempa Outer-rise (Kanamori, 2008). Jika dikaitkan dengan lokasi pusat gempa, pusat gempa outer-rise terletak di dalam patahan satu lempeng tektonik, sementara pusat gempa megathrust terletak pada pertemuan dua lempeng (zona subduksi).

Gempa Aceh 11 April 2012 dikategorikan sebagai gempa outer-rise karena terletak di luar zona subduksi. Gempa Outer-rise berkorelasi erat dengan tingkat stress (tekanan) pada zona interplate (zona pertemuan lempeng tektonik, dalam hal ini Lempeng Indo-Australia dengan lempeng Sunda). Gempa jenis ini termasuk jarang terjadi, akan tetapi lebih berbahaya daripada kedua jenis gempa yang lain.

Gempa Aceh ini juga memiliki karakteristik sebagai gempa Doublet karena terjadi dua kali gempa dalam waktu dan lokasi yang berdekatan dan berkekuatan yang hampir sama. Seperti yang telah diberitakan, gempa pertama terjadi pada pukul 15:38 WIB dengan kekuatan 8,6; dan gempa ke dua terjadi pada pukul 17:43 dengan kekuatan 8,1.

Intensitas guncangan gempa outer rise terasa lebih kuat, karena energi yang dilepaskan terakumulasi dalam waktu yang singkat. Gempa Aceh dengan magnitud 8,6 kemarin berkekuatan setara dengan 500.000 kali ledakan bom atom Hiroshima yag dilepaskan secara bersamaan hanya dalam waktu 40 detik. Akibatnya,dampak guncangan terasa sampai wilayah yang lebih jauh.

Guncangan Gempa Aceh kemarin dilaporkan terasa sampai di Bangkok. Sebaliknya, Gempa Aceh 26 Desember 2004 yang berkekuatan 9.2 Skala Richter guncangannya hanya terasa sampai di pesisir barat Malaysia.

Kejadian Gempa Aceh 11 April 2011 ini termasuk anomali, karena gempa Outer-rise ini biasanya terjadi pada zona “transisi”, yaitu zona peralihan dari zona yang terkunci secara kuat (seperti kawasan pesisir barat Sumatera) ke zona yang tidak terkunci atau terkunci secara lemah, seperti kawasan di selatan Nusatenggara.

Sebagai contoh adalah gempa di selatan Sumba tgl. 19 Agustus 1977 (8,3 Skala Richter) dan gempa di selatan Jawa tgl. 26 Juni 2007 (6,0 Skala Richter).

Sementara itu, Gempa Aceh kemarin terjadi pada zona yang terkunci secara kuat. Peristiwa memang dapat saja terjadi, antara lain jika sebelumnya terpicu oleh gempa megathrust yang besar. Apabila asumsi ini, maka gempa outer-rise 11 April 2012 ini merupakan rentetan dari gempa megathrust 26 Desember 2004. Namun, hal ini masih memerlukan analisa lebih lanjut, mengingat mekanisme gempa 11 April 2012 yang didominasi oleh komponen horizontal (strike-slip), sementara gempa 26 Desember 2004 didominasi oleh komponen vertikal (thrust fault).

Kejadian gempa Doublet (dua gempa yang terjadi dengan perbedaan kekuatan tidak lebih dari 0.2 unit atau jarak antar titik pusat tidak lebih dari 100 km atau terjadi dalam waktu yang berdekatan) juga pernah beberapa kali terjadi di Indonesia. Gempa Papua 3 Januari 2009 dengan kekuatan 7,6 dan 7.4 Skala Richter berbeda 3 jam antar kejadian. Gempa Bengkulu 12 September 2007 dengan kekuatan 8,4 and 7,9 Skala Richter berselang 12 jam antar kejadian. Gempa Aceh 11 April 2012 dengan kekuatan 8,6 dan 8,2 Skala Richter terjadi dalam selisih waktu 2 jam.

Gempa Outer-rise 11 April 2012 di sebelah barat Aceh ini mempunyai mekanisme geser (strike-slip) dimana komponen horizontal yang dominan, sehingga tidak membangkitkan gelombang tsunami yang besar. Berbeda dengan kejadian gempa Outer-rise 19 Agustus 1977 di selatan Sumba dengan mekanime patahan turun (normal-fault) yang membangkitkan tsunami dan menelan korban 189 jiwa.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dampak negatif dari gempa Outer-rise yang jarang terjadi ini lebih lengkap yaitu guncangan yang lebih keras dengan jangkauan yang lebih jauh. Apabila mekanisme gempanya didominasi oleh komponen vertikal (dip-slip), maka potensi tsunami juga sangat besar.

Berdasarkan sistem kegempaan di kawasan barat Sumatera, pelepasan energi melalui gempa outer-rise 11 April 2012 ini tidak berarti mengurangi potensi pelepasan energi besar di segmen Mentawai yang selama ini diwaspadai. Oleh karena itu, pemantauan dan penelitian terhadap fenomena gempa di kawasan ini tetap harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.

Perilaku gempa Outer-rise ini dapat berdampak regional. Akibatnya, negara-negara tetangga Indonesia, yang notabene bukan negara pusat gempa, memberikan perhatian lebih besar dengan mendirikan lembaga-lembaga penelitian baru. Bagi Indonesia, peristiwa gempa outer-rise ini hendaknya makin meningkatkan upaya-upaya mitigasi bencana karena memang kita ‘kaya’ akan jenis-jenis gempa yang merusak, dan akhir-akhir ini makin sering terjadi.(TPSA/Humas)

semoga bermanfaat…

BPPT: RAIN REDUCTION SUKSESKAN SEA GAMES KE-26 DI PALEMBANG

November 20, 2011 pukul 7:45 pm | Ditulis dalam cuaca | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

tulisan ini langsung copas dari laman news nya BPPT disini

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tak hanya diterapkan untuk mendatangkan hujan buatan, tetapi dalam pelaksanaannya teknologi modifikasi cuaca juga melakukan perekayasaan dalam mengurangi intensitas curah hujan (rain reduction).  Upaya pengurangan intensitas curah hujan inilah yang kali ini menjadi titik fokus UPT Hujan Buatan BPPT (UPT HB) guna mensukseskan pelaksanaan kejuaraan Sea Games XXVI tahun 2011 di lingkungan Jakabaring, Palembang (11/11).

 “UPT-HB telah menerapkan dua metode TMC untuk pengurangan curah hujan yaitu Competition Mechhanism untuk menghambat  pertumbuhan awan di atas target area yang digunakan pelaksanaan Sea Games. Dan metode berikutnya adalah menggunakan Jumping Process Mechanism untuk redistribusi hujan dengan mempercepat proses terjadinya awan baik di upwind maupun downwind,” jelas Heru Widodo, Penanggung jawab dan Koordinator pelaksanaan TMC di Palembang.

Selanjutnya, Kepala UPT HB BPPT Samsul Bahri  menyampaikan dalam pelaksanaan rain reduction, UPT-HB menggunakan beberapa bahan. “Diantaranya, 10 peralatan fogging yang akan digunakan untuk penyemaian dari darat atau ground base generator, 3 buah pohon flare untuk penyemaian yang sama yaitu ground base generator. Serta 5 pos meteorology  yang digunakan untuk mengukur parameter cuaca dan angin,” paparnya. Selain itu, didukung pula dengan sarana peralatan seperti pesawat. Pesawat Cessna berbasis Flare yang akan digunakan untuk menerapkan metode competition mechanism dan dua pesawat CN 212-200 yang berbasis powder yang akan digunakan untuk menerapkan metode jumping process mechanism, serta pesawat Piper Cheyene yang berbasis flare yang digunakan untuk penerapkan metode competition mechanism dan jumping process mechanism.

Samsul mengatakan saat puncak pelaksanaan TMC, telah dilakukan masing-masing 12 kali penerbangan atau dengan kata lain 12 kali penyemaian awan (seed). “Dengan penerapan TMC untuk rain reduction secara nyata maka menjadi nuansa baru bagi UPT HB dan sekaligus menjawab pertanyaan masyarakat awam akan penerapan  teknologi  Hujan Buatan,” ungkapnya. Penerapan TMC untuk rain reduction sudah banyak diterapkan di berbagai negara seperti China dan Rusia untuk membuat cuaca cerah ketika terjadi acara-acara kenegaraan di lapangan terbuka. Sementara itu di China, teknologi ini menjadi fenomenal ketika diterapkan untuk menjamin tidak terjadinya hujan pada saat upacara pembukaan Olympiade di Beijing tahun 2008. (KYRAAS/humas)

ternyata pawang ujan yg ilmiah..ada metodenya juga ya…walopun biayanya pasti jauh lebih mahal….heee

hujan buatan di Palembang 13 september 2011

September 14, 2011 pukul 2:19 pm | Ditulis dalam cuaca | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

yap, kemarin seharian bolak-balik liat running text di tv yang meng-infokan adanya kegiatan penyemaian hujan buatan di palembang. di berita diinfokan bahwa kegiatan tersebut dilakukan oleh BNPB. tapi setahu saya di Indonesia instansi yang mumpuni untuk melakukan kegiatan hujan buatan adalah BPPT dengan UPTHB-nya (unit pelaksana teknis hujan buatan).

setelah meninjau website http://www.bppt.go.id ketemulah berita tentang kegiatan tersebut:

    Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, Sumetera Selatan merupakan salah satu dari enam provinsi yang memiliki potensi rawan kebakaran seluas 542,30 ha. Berkaitan dengan hal tersebut dan sebagai tindak lanjut dari operasi pemadam kebakaran lahan dan hutan yang telah resmi dilepas pada Kamis, 8 september 2011 lalu, telah dilaksanakan Operasi operasi pemadam kebakaran lahan dan hutan di Bandara Bahruddin II Palembang, pagi tadi (12/9).

“Ada beberapa hal yang terkait kedatangan kami dalam tugas untuk mengatasi kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan di di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya Pelambang. Pada operasi kali ini kami dibantu UPT Hujan Buatan (UPT-HB) BPPT untuk melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC),” ungkap Direktur Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tri Budiarto saat membuka operasi tersebut.

“Secara umum, TMC dalam pelaksanaannya memang sangat teknis sekali. Dengan menyemai garam di awan, kita bisa menurunkan hujan di suatu daerah. Dengan TMC ini kita dapat mengatasi kebakaran hutan diantaranya dengan upaya menjatuhkan hujan di daerah yang sedang terjadi kebakaran. Cara ini bermanfaat dalam mengurangi hot spot, penipisan asap dan peningkatan jarak pandang,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Heru Widodo yang mewakili Kepala UPT-HB BPPT mengatakan bahwa kehadiran UPT-HB disini karena mendapat tugas dari pemerintah untuk membantu mengurangi kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan yang mengganggu. “Selain itu juga dalam mendukung persiapan Sea Games 2011 mendatang di Palembang agar dapat terlaksanan tanpa gangguan kabut asap. Untuk pelaksanaan operasi pemadaman ini kami telah  menyiapkan tim yang bertugas di posko dan didukung dengan dua pesawat terbang CASA 212-200,” jelasnya.

Lebih lanjut Heru menambahkan dalam melaksanakan kegiatan ini tim juga mempersiapkan dua website dalam memantau dan menentukan titik panas (hot spot) di area yaitu dari The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan Neonet BPPT. Direncanakan kegiatan TMC di Palembang ini akan berlangsung hingga 30 hari mendatang.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noordin yang juga hadir dalam pembukaan tersebut mengakatan bahwa kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Palembang diakibatkan maraknya pembukaan lahan dan ladang perkebunan yang menyebabkan kabut asap yang mengganggu. “Untuk mencegah dan mengurangi kabut asap ini, yang paling efektif adalah dengan hujan. Namun karena saat ini bukanlah musim hujan, maka sulit memperoleh hujan untuk pemadaman kebakaran ini. Untuk itu kami sangat berterima kasih dengan adanya tipm operasi pemadaman dari UPT-HB ini yang dapat mempercepat datangnya hujan dengan teknologi modifikasi cuaca BPPT. Dengan teknologi ini kita dapat menurunkan hujan yang belum datang untuk datang lebih awal,” jelasnya.

Selain pelaksanaan operasi pemadaman lahan dan hutan 2011 di Posko Sultan Mahmud Baharudin II Palembang, operasi juga direncanakan akan dilakukan di Posko Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dan Posko Tjilik Riwut Palangkaraya. (JSYRA/humas).

berita di tv tadi malem juga menginformasikan bahwa kegiatan pada sian hari tersebut berjalan sukses dengan  menghasilkan hujan di beberapa daerah diseputaran kota palembang.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.